Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Bukan Ruang Kosong yang Harus Diisi, Aku Adalah Ruang Hidup yang Harus Dipahami (Versi Curhat).

Gambar: Ketiga siswa tersebut dikeluarkan dari ruang ujian oleh seorang guru  karena dianggap lalai saat mengerjakan soal ujian. Stimulus, Respon, dan Kepatuhan tanpa Makna Perubahan perilaku sering terjadi karena guru memberikan stimulus, kemudian Aku merespon. Pola ini seperti yang dijelaskan dalam teori Behaviorisme oleh Skinner dan Watson. Terlihat sederhana, bahkan efektif. Dalam praktiknya, pola ini sering dianggap sebagai cara tercepat untuk mencapai hasil belajar. Guru merasa berhasil ketika Aku bisa menjawab dengan benar, mengerjakan tugas dengan tepat, dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan aturan. Dari luar, semuanya tampak berjalan baik. Kelas terlihat tertib, Aku terlihat patuh, dan proses belajar tampak berhasil. Hal ini merupakan bentuk simplifikasi yang dangkal, karena di balik itu, ada sesuatu yang lebih dalam yang sering diabaikan, yaitu makna. Aku dibuat menjadi patuh, tetapi tidak memahami. Kepatuhan yang lahir bukan dari kesadaran, melainkan dari teka...

Ketika Tanah Lebih Murah dari Rokok Tabaku Daun Putih: Konflik Tapal Batas dan Politik Tanah di Tanimbar

MT. Empung, Tomohon Gagasan tentang tanah dan konflik yang mengelilinginya sebenarnya sudah muncul di kepala saya sejak saya mendaki Gunung Empung, Tomohon. Baru hari ini saya menuliskannya, setelah semalam saya berdiskusi panjang dengan beberapa teman dan salah satu tokoh masyarakat yang memiliki ambisi untuk maju sebagai bakal calon kepala desa definitif Desa Latdalam. Percakapan itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan tanah di desa kita bukan sekadar soal batas wilayah, tetapi soal masa depan masyarakat itu sendiri. Tanah Murah di Tanah Kaya Ada satu ironi besar yang sedang terjadi di Kepulauan Tanimbar. Di wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam besar, tanah masyarakat justru pernah dijual dengan harga sekitar Rp10.000–Rp14.000 per meter. Sementara itu harga "tabaku daun putih" (Tembakau Shag : salah satu jenis tembakau iris yang merupakan primadona bagi parah perokok ulung di Desa Latdalam) di wilayah yang sama sekitar Rp15.000 per bungkus. Tidak sesederhana...

17+8: Tuntutan Rakyat hingga Bayang-bayang Revolusi

Tulisan ini saya persembahkan untuk Almarhuma adik ipar saya, yang pada hari ini genap satu bulan telah meninggalkan kita. Kehadirnya telah tiada, namun kasih, canda, tawa dan kenangan indahnya tetap hidup dalam hati kami. Dalam kesedihan ini, saya menulis sebagai penghormatan sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan bagi mereka yang kita cintai adalah warisan yang harus dijaga.   Gambar: OKP Tanimbar bersatu dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan.   UUD 1945 memberikan mandat agar negara mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan masyarakatnya . Namun setelah delapan dekade merdeka, cita-cita itu masih terasa jauh dari kenyataan. Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 menegaskan, “Merdeka hanyalah jembatan emas.” Merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju masyarakat adil dan makmur. Tetapi, jembatan itu hingga kini masih retak, dipenuhi lubang ketidakadilan, dan dipelihara oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga amanah rakyat. Kenyat...

KOLONIALISME SINDROM DALAM RUANG-RUANG KELAS

  Foto: Rutinitas Guru Honorer , berjalan ke Sekolah sebelum pukul 07.00 pagi yang penuh dengan dedikasi meskipun dengan keterbatasan fasilitas dan penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka. Bayangkan, setiap sebelum pukul 07.00 pagi ia sudah berjalan kaki ke Sekolah. Ia harus bangun setiap subuh, meninggalkan keluarganya tanpa sarapan. Sudah menjadi rutinitas yang ia lakoni dengan kesabaran yang luar biasa, padahal setiap akhir bulan ia hanya menerima upah Rp500 ribu: Rp250 ribu dari dana BOS , dan Rp250 ribu dari uang komite siswa. Lima ratus ribu rupiah untuk sebulan penuh—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk  kebutuhan pokoknya. Ya... ia adalah seorang guru honorer di sebuah desa terpencil yang berkilo-kilo jaraknya dari “Mama Kota.” Inilah wujud dari pendidikan di “ Negeri Konoha ” hari ini yang masih berkutat pada kolonialisme sindrom . Guru honorer dituntut menjalankan kurikulum baru dan ikut pelatihan daring , tapi gaji mereka bergantung pada dan...

PENGHISAP DAN TERHISAP: Menafsirkan Kemerdekaan Indonesia ke-80 dari Batu Lompat Latdalam

    Foto: Memperingati HUT ke-80 RI di Batu Lompat, Latdalam   17 Agustus 2023, di ketinggian 1340 Mdpl Gunung Empung, Tomohon, saya pernah menulis tentang kaum Mahardika yang telah merdeka dari belenggu tuan mereka. Saya juga menyinggung tentang kaum Marhaen yang justru tergerus oleh roda pemerintahan despotis, sebagaimana dikritik oleh Soekarno dalam Indonesia Menggugat . Kini, di peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-80, saya merayakannya di Batu Lompat Batnyanyik, Latdalam, dengan hati yang penuh kegelisahan, dengan pertanyaan yang kerap mengganggu akl sehat: apakah kemerdekaan yang telah delapan dekade dikumandangkan benar-benar sampai ke desa-desa terpencil seperti desa Latdalam, ataukah ia hanya berhenti di bibir para pejabat dan pidato seremonial belaka? Tan Malaka dalam Menuju Republik Indonesia pernah menegaskan tentang dialektika “yang menghisap dan yang terhisap.” Relasi ini terus hidup, bahkan setelah bangsa ini mengibarkan Merah Putih. Bagi masyarakat La...

Kajian Historis Penyebaran Agama Katolik di Pesisir Timur Pulau Yamdena

Peta Kepulauan Tanimbar Prolog Sebelum masuk dan berkembangnya agama-agama besar seperti Hindu-Buddha, Islam, dan Kristen di Indonesia, penduduk Indonesia telah memeluk agama suku (agama primitif). Agama-agama suku itu menganut paham animisme, yakni kepercayaan terhadap roh leluhur atau kekuatan-kukuatan gaib yang menguasai alam semesta. Benda-benda seperti pohon, binatang-binatang, dan tempat-tempat diyakini didiami oleh roh-roh tertentu (Sihombing, 2009: 5). Agama Hindu-Buddha, Islam, dan Kristen masuk ke Indonesia terutama melalui perdagangan. Sebetulnya, sejak abad pertama Masehi, agama Hindu-Buddha telah masuk dan berkembang di Indonesia, aggama Islam masuk ke Indonesia sejak abad XIII dan pada abad XVI agama Kristen yang kita kenal sekarang ini mulai masuk ke Indonesia melalui imperialisme negara-negara Barat (Eropa). Dengan kata lain, orang-orang Eropa berupaya melebarkan sayap ke sebarang lautan untuk berdagang dan mengeksploitasi rempah-rempah Indonesia, sambari menyebarkan ag...

Proses Historis Terbentuknya Desa Moreah Satu

Penulisan sejarah senantiasa didorong oleh rasa ingin tahu yang mendalam tentang suatu objek tertentu. Objek sejarah adalah aktivitas manusia dalam dimensi waktu. Menurut Kuntowijoyo (2018 : 47) “objek dari sejarah ialah waktu." Jadi, dapat dikatakan sejarah mengkaji tentang aktivitas manusia pada masa lampau. Objek sejarah juga berupa suatu wilayah  tertentu yang ingin dikaji untuk diketahui atau ditulis sejarahnya.  Di daerah Sulawesi Utara, khusunya di Minahasa, suatu wilayah bersamaan dengan adat istiadat, bahasa, agama dan yang lainnya merupakan suatu persekutuaan hukum territorial yang disebut "walak". Ada 8 (delapan) suku di Minahasa yang terpecah dalam beberapa walak, yakni suku Tombulu terdiri dari 7 (tujuh) walak, suku Tonsea ada 2 (dua) walak, suku Tountemboan 6 (enam) walak, suku Toulour 3 (tiga) walak dan suku-suku yang datang setelah itu adalah suku Bantik, suku Ratahan, suku Ponosokan dan suku Tonsawang yang masing-masing suku tersebut hanya mempunyai 1 (s...