Foto: Memperingati HUT ke-80 RI di Batu Lompat, Latdalam
17
Agustus 2023, di ketinggian 1340 Mdpl Gunung Empung, Tomohon, saya pernah
menulis tentang kaum Mahardika yang telah merdeka dari belenggu tuan mereka.
Saya juga menyinggung tentang kaum Marhaen yang justru tergerus oleh roda
pemerintahan despotis, sebagaimana dikritik oleh Soekarno dalam Indonesia Menggugat. Kini, di peringatan
kemerdekaan Indonesia yang ke-80, saya merayakannya di Batu Lompat Batnyanyik, Latdalam,
dengan hati yang penuh kegelisahan, dengan pertanyaan yang kerap mengganggu akl
sehat: apakah kemerdekaan yang telah delapan dekade dikumandangkan benar-benar
sampai ke desa-desa terpencil seperti desa Latdalam, ataukah ia hanya berhenti
di bibir para pejabat dan pidato seremonial belaka?
Tan
Malaka dalam Menuju Republik Indonesia
pernah menegaskan tentang dialektika “yang menghisap dan yang terhisap.” Relasi
ini terus hidup, bahkan setelah bangsa ini mengibarkan Merah Putih. Bagi
masyarakat Latdalam, kolonialisme baru tidak lagi hadir melalui kekuasaan asing
seperti VOC pada abad ke-17 atau pendudukan militer Nippon pada awal abad
ke-20, melainkan melalui ekspansi industri besar, seperti Blok Masela. Industri
ini masuk dengan janji pembangunan dan kesejahteraan, tetapi dalam praktiknya,
keuntungan terbesar hanya dinikmati oleh kelompok kecil, sementara mayoritas
masyarakat tetap tersisih. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber
kehidupan bersama justru berpotensi menjadi instrumen eksploitasi baru,
memperlebar kesenjangan antara pusat dan daerah, serta antara pihak yang
menguasai dan pihak yang dikuasai.
Jika
dibandingkan dengan proyek migas lain di Indonesia, dinamika ini tampak
berulang. Di Aceh, misalnya, eksploitasi gas alam Arun memang sempat mendorong
pertumbuhan ekonomi, tetapi meninggalkan kerusakan lingkungan, menurunnya
kualitas tanah dan air, serta ketergantungan masyarakat lokal pada industri
migas yang rapuh. Di Papua Barat, Proyek Tangguh LNG membawa investasi dan
infrastruktur, tetapi juga menciptakan polarisasi sosial: sebagian kecil
masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, sementara banyak komunitas adat harus
menghadapi degradasi lingkungan dan perubahan pola hidup tradisional. Demikian
pula di Blok Cepu, Jawa Tengah, keuntungan besar industri migas lebih banyak mengalir
ke pusat dan perusahaan multinasional, sedangkan masyarakat sekitar hanya
menerima dampak ikutan berupa kerusakan lingkungan dan ketidakpastian
sosial-ekonomi.
Soekarno
dalam pidatonya tentang marhaenisme pernah berkata bahwa “marhaen adalah simbol
rakyat kecil yang harusnya menjadi tulang punggung bangsa.” Namun, bagaimana
nasib kaum marhaenis Latdalam hari ini? Mereka terjebak dalam problem sosial
yang terus berulang: tawuran anak muda yang memecah belah persaudaraan antara
“yang muka” dan “yang belakang”, pemerintah desa yang abai terhadap banjir
karena buruknya pembangunan drainase, dan sampah di jalan utama yang tak
terurus. PADes yang seharusnya menjadi sumber kemandirian melalui kontrak laut
hasil teripang justru diselimuti kabut gelap ketidaktransparanan, sementara BPD
yang diamanatkan menjadi fungsi pengawasan terkesan “tidur seranjang” dengan
pemerintah desa. Kaum muda, yang seharusnya menjadi motor penggerak perubahan,
justru terpecah dan kehilangan arah karena polarisasi konflik horizontal.
Dalam
kerangka Paulo Freire, kondisi ini bisa dibaca sebagai wujud dari kultur bisu (culture of silence) di mana masyarakat
terjebak dalam ketidakberdayaan untuk bersuara atas penindasan yang dialami.
Mereka pasrah terhadap pengelolaan desa yang tidak transparan, terhadap sampah
yang menumpuk, terhadap banjir yang berulang, dan terhadap kontrak laut yang
dikuasai segelintir elit. Pendidikan kritis yang ditawarkan Freire mengingatkan
kita bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar lepas dari penjajahan fisik,
melainkan lahirnya kesadaran kritis di kalangan rakyat untuk melawan
ketidakadilan struktural.
Dengan
demikian, refleksi kemerdekaan ke-80 ini justru menjadi panggilan bagi kita
untuk menghidupkan kembali semangat Tan Malaka, Soekarno, dan Freire. Bahwa
kemerdekaan tidak boleh hanya diperingati dengan upacara, lomba panjat pinang,
atau bendera di jalanan. Kemerdekaan harus berarti pembebasan rakyat Latdalam
dari struktur penghisapan baru, dari birokrasi desa yang k***p, dari
ketidakpedulian sosial yang menumpuk, serta dari fragmentasi generasi muda yang
seharusnya menjadi ujung tombak perubahan. Tanpa itu, perayaan 80 tahun
kemerdekaan hanyalah gema kosong, sementara rakyat kecil tetap terhisap dalam
sistem yang menindas.
Batu Lompat Latdalam, 17 Agustus 2025.
Komentar