Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

KEMBALIKAN NEGERIKU

Negeriku di ujung selatan pulau Maluku yang berlimpah susu dan madu, hamparan pasir putih memanjang di tepi pantai, surga wisata karang bawah laut yang begitu indah, teripang, lola, mutiara di bawah laut serta bukit yang dihiasi dengan permadani hijau melintang luas menggambarkan kekayaan alam negeriku. Masih adakah harapan bagi kita agar senantiasa melestarikan kemegahan alamnya? Ataukah demi untuk memperkaya diri, sehingga kita bersedia dengan ikhlas hati membiarkan spesies-spesies rabies untuk mengeksploitasi seluruh kekayaan alam negeri kita? Satu dekade kemudian, kita dikonfrontir dengan industrialisasi migas yang sangat tentatif arahnya. Apakah demi memenuhi ekonomi masyarakat? Menghapuskan kesenjangan sosial yang sementara berlangsung? Ataukah justru menyengsarakan masyarakat itu sendiri? Pertanyaan yang sangat mengandung kesangsian, bahkan seorang skeptis pun ragu untuk mengetahui kebenaranya.  Sejarah berulang kembali, masih saja terus berlangsung antara yang menghimpit de...

MUDA DAN TERPELAJAR

Indonesia membutuhkan anak muda yang sadar akan kepemudaannya? Ataukah Indonesia membutuhkan anak muda, yang muda dan terpelajar yang potensial memasuki dan memperkuat sistim kapital? Sebuah pertanyaan yang biasa namun sangat fundamental. Anak muda, adalah ungkapan kata yang semakin merosot maknanya jika ditilik dari dinamika sosial saat ini. Semacam stigmatisasi yang kerap dilontarkan untuk mereka. Bahwa pemuda adalah generasi rebahan, bahwa pemuda adalah generasi perusak. Padahal jika dirunut dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sangat absurd untuk meniadakan peran pemuda. Pemuda pada saat itu adalah pemuda yang sadar akan “kepemudaannya”, yang sadar akan tindakannya! Dengan penuh semangat berusaha untuk mengetahui kearifan hari lampau untuk menguasai hari ini dan merintis hari depan. Di tangan kaum mudalah bangsa Indonesia terlepas dari kemiskinan dan kebodohan serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa, sehingga mencapai klimaks dengan slogan “Indonesia Merdeka”. Ada...

KULMINASI PENDERITAAN

KULMINASI PENDERITAAN Ditengah-tengah masyarakat kontemporer yang telah didominasi oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki hingga regulasi cenderung determinasi patriarki, bahkan dalam pergaulan pun sangat vulgar dengan sifat maskulin yang mengucilkan tanpa mempertimbangkan hak-hak perempuan. Stigmatisasi bahwa perempuan adalah anak yang bertubuh besar tapi otaknya tak berisi, seperti di dalam tradisi masyarakat Yahudi, yang selalu mengucap syukur karena tidak terlahir sebagai seorang perempuan dan seorang budak. Tidak ada sedikit pun pujian bagi kaum perempuan?? Bukankah ketika NAZI (partai politik) menguasai Jerman, dengan totalitarian Hitler, mempropaganda, memobilisasi, membungkam rakyat. Dengan totalitas membakar buku-buku yang dianggap merusak dan tidak sesuai dengan cita-cita pemerintahannya, namun seorang perempuan yang katanya tak berisi otak itu berdiri kokoh, dengan kritikan tajam dapat menumpas kedokteran Hitler. Dialah Hannah Arendt, sosok feminis yang tak pern...

NEGERI KITA

Jemariku kaku hingga membeku ketika menulis tentangmu. Berlinang-linang di mata ketika melihat peristiwa berdarah yang kerap terjadi di negeriku. Dahulu kita hidup berdampingan (baku kele), sangat harmonis dengan adat istiadat dan budaya (serimfet-serimuan) yang kita miliki, bahkan di negeri lain pun jarang di jumpai. Namun kini hilang ditelan waktu! Sebuah persoalan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan (adat) dan mengharapkan kehadiran bapak kaya (pemimpin/pemerintah) sebagai pengadili sekaligus memberikan motivasi serta solusi pun tak kunjung tiba. Sifatnya oportunis, perjuangannya bukan untuk rakyat melainkan untuk diri sendiri hingga konflik sosial yang terjadi bukan pertanda bahwasanya kita sedang mengalami modernisasi yang sifatnya tertib sosial melainkan modernisasi yang memorak-porandakan dan berujung disintegrasi. Bukankah istilah perubahan, kemajuan, revolusi, dan pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern? Yaa.... Modernitas yang menuntut perubah...

SPEKULASI KAUM KANAN DAN REALITA KAUM KIRI : DARI INDONESIA HINGGA TANIMBAR

Tak ada yang benar-benar baru dari istilah “kaum kanan” dan “kaum kiri”. Ia bukan sekadar label politik, melainkan jejak panjang pergulatan manusia melawan ketimpangan. Istilah ini pertama kali digunakan di Prancis pada tahun 1789 ketika raja Louis XVI mengadakan sebuah musyawarah dan mengundang perwakilan  Estate untuk menyampaikan aspirasi mereka dikarenakan Prancis pada saat itu mengalami guncangan ekonomi yang begitu masif.  Dalam musyawarah tersebut terlihat bahwa Estate Third dan Estate revolusioner (proletar dan borjuis intelektual) menempati sebelah kiri Raja Louis XVI sedangkan perwakilan First Estate bersama Second Estate (Rohaniawan dan Borjuis/hartawan) menempati sebelah kanan Raja Louis XVI.  Dalam musyawarah itu, kaum Estate Third berusaha memperjuangkan hak-hak mereka dengan menghapuskan kebijakan yang menindas dan ingin mengubah bentuk Negara Kerajaan menjadi Republik. Tetapi sisi kanan kaum rohaniawan dan Borjuis tetap mempertahankan status quo, mendukung...

Romantisme dan Romantis: Ketika Generasi Cepat Melupakan Sejarah Kata

Kata yang Disederhanakan oleh Zaman Apa itu romantisme? Apakah romantis sama dengan romantisme?  Di tengah budaya yang serba instan, banyak istilah besar kehilangan kedalamannya. Kita hidup di era caption singkat, potongan video 30 detik, dan definisi yang diambil dari satu sumber tanpa ditelusuri ulang. Akibatnya, kata “romantisme” sering direduksi menjadi sekadar suasana percintaan atau kemesraan. Padahal romantisme bukan soal makan malam berlampu lilin. Romantisme adalah gerakan intelektual. Romantis adalah sifat perasaan. Kesalahan memahami keduanya bukan sekadar kekeliruan bahasa, melainkan cermin dari cara berpikir generasi yang terbiasa dengan ringkasan, bukan kedalaman. Perlawanan terhadap Dunia yang Terlalu Rasional Romantisme lahir pada akhir abad ke-18 di Eropa sebagai respons terhadap rasionalisme dan Revolusi Industri. Dunia saat itu bergerak cepat menuju modernitas. Mesin menggantikan manusia, kota-kota membesar, dan akal dianggap sebagai pusat segala kebenaran. Namun...