Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

NEGERI KITA

Jemariku kaku hingga membeku ketika menulis tentangmu. Berlinang-linang di mata ketika melihat peristiwa berdarah yang kerap terjadi di negeriku. Dahulu kita hidup berdampingan (baku kele), sangat harmonis dengan adat istiadat dan budaya (serimfet-serimuan) yang kita miliki, bahkan di negeri lain pun jarang di jumpai. Namun kini hilang ditelan waktu! Sebuah persoalan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan (adat) dan mengharapkan kehadiran bapak kaya (pemimpin/pemerintah) sebagai pengadili sekaligus memberikan motivasi serta solusi pun tak kunjung tiba. Sifatnya oportunis, perjuangannya bukan untuk rakyat melainkan untuk diri sendiri hingga konflik sosial yang terjadi bukan pertanda bahwasanya kita sedang mengalami modernisasi yang sifatnya tertib sosial melainkan modernisasi yang memorak-porandakan dan berujung disintegrasi. Bukankah istilah perubahan, kemajuan, revolusi, dan pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern? Yaa.... Modernitas yang menuntut perubah...

SPEKULASI KAUM KANAN DAN REALITA KAUM KIRI : DARI INDONESIA HINGGA TANIMBAR

Tak ada yang benar-benar baru dari istilah “kaum kanan” dan “kaum kiri”. Ia bukan sekadar label politik, melainkan jejak panjang pergulatan manusia melawan ketimpangan. Istilah ini pertama kali digunakan di Prancis pada tahun 1789 ketika raja Louis XVI mengadakan sebuah musyawarah dan mengundang perwakilan  Estate untuk menyampaikan aspirasi mereka dikarenakan Prancis pada saat itu mengalami guncangan ekonomi yang begitu masif.  Dalam musyawarah tersebut terlihat bahwa Estate Third dan Estate revolusioner (proletar dan borjuis intelektual) menempati sebelah kiri Raja Louis XVI sedangkan perwakilan First Estate bersama Second Estate (Rohaniawan dan Borjuis/hartawan) menempati sebelah kanan Raja Louis XVI.  Dalam musyawarah itu, kaum Estate Third berusaha memperjuangkan hak-hak mereka dengan menghapuskan kebijakan yang menindas dan ingin mengubah bentuk Negara Kerajaan menjadi Republik. Tetapi sisi kanan kaum rohaniawan dan Borjuis tetap mempertahankan status quo, mendukung...