![]() |
| Gambar: Ketiga siswa tersebut dikeluarkan dari ruang ujian oleh seorang guru karena dianggap lalai saat mengerjakan soal ujian. |
Perubahan perilaku sering terjadi karena guru memberikan stimulus, kemudian Aku merespon. Pola ini seperti yang dijelaskan dalam teori Behaviorisme oleh Skinner dan Watson. Terlihat sederhana, bahkan efektif.
Dalam praktiknya, pola ini sering dianggap sebagai cara tercepat untuk mencapai hasil belajar. Guru merasa berhasil ketika Aku bisa menjawab dengan benar, mengerjakan tugas dengan tepat, dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan aturan. Dari luar, semuanya tampak berjalan baik. Kelas terlihat tertib, Aku terlihat patuh, dan proses belajar tampak berhasil.
Hal ini merupakan bentuk simplifikasi yang dangkal, karena di balik itu, ada sesuatu yang lebih dalam yang sering diabaikan, yaitu makna.
Aku dibuat menjadi patuh, tetapi tidak memahami. Kepatuhan yang lahir bukan dari kesadaran, melainkan dari tekanan. Aku belajar bukan karena mengerti, tetapi karena Aku takut: takut salah, takut dihukum, takut tidak diterima.
Dalam jangka panjang, pola ini tidak melahirkan Aku yang berpikir, tetapi Aku yang patuh, karena Aku terbiasa menunggu perintah. Aku tidak bertanya, tidak meragukan, dan tidak mencari makna. Aku hanya merespon.
Pada titik ini, pendidikan tidak lagi membebaskan, tetapi justru membentuk Aku yang terbiasa menunduk. Kalau kata Ngareku, "Menunduk untuk Menanduk," tetapi bukan itu, sebetulnya menunduk untuk diperbudak.
Superego, Ketakutan, dan Hilangnya Diri
Kalau pake kacamata Sigmund Freud, boleh dikatakan bahwa kondisi ini memperkuat dominasi superego, yang kemudian mereduksi dorongan spontan dalam diriku (id).
Superego yang terlalu dominan membuat Aku hidup dalam bayang-bayang “harus” dan “tidak boleh.” Setiap tindakan diukur berdasarkan penerimaan dari luar, bukan kejujuran dari dalam. Akibatnya, Aku menjadi asing dengan diriku sendiri.
Aku kehilangan keberanian, Aku tidak lagi mendengarkan suara dalam diriku, tetapi lebih sibuk menyesuaikan diri dengan suara dari luar. Aku seolah didesain untuk belajar menyenangkan orang lain, bukan memahami diriku sendiri.
Ketakutan menjadi dasar utamaku dalam bertindak. Takut salah, takut dihukum, takut tidak diterima. Dan ketika ketakutan menjadi fondasi, maka kebebasanku perlahan menghilang.
Dalam kondisi seperti ini, yang berkembang bukanlah kepribadianku yang utuh, tetapi kepribadian yang terfragmentasi—terbagi antara yang Aku rasakan dan yang Aku tampilkan.
Aku Bukan Kertas Kosong
Pandangan bahwa Aku adalah kertas kosong seperti yang dikemukakan John Locke memang menekankan pentingnya lingkungan. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya cukup untuk memahamiku.
Jika Aku benar-benar kosong, maka Aku akan menjadi sama dengan Aku dan Aku yang lain ketika berada dalam lingkungan yang sama. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Aku memiliki keunikan, cara berpikir, dan cara merespon yang berbeda dengan orang lain.
Aku bukan kertas putih yang bisa diisi sesuka hatimu, Aku adalah ruang hidup.
Aku memiliki arah, memiliki potensi, memiliki kehendak yang mungkin belum sepenuhnya disadari, tetapi sudah ada sejak awal. Aku bukan hanya hasil dari apa yang kalian ajarkan, tetapi juga hasil dari bagaimana Aku memahami dan merespon dunia.
Seperti yang dikatakan oleh Khalil Gibran:
"Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya sendiri.
Mereka lahir melalui engkau, tetapi bukan dari engkau.
Kau boleh memberi cinta dan kasih sayang, tetapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri.
Kau boleh membangun rumah untuk mereka, tetapi tidak berarti mereka harus tinggal di dalamnya selamanya, karena mereka memiliki rumah masa depan yang bahkan tidak bisa kau kunjungi sekalipun dalam mimpi."
Kutipan ini bukan sekadar puitis, tetapi merupakan kritik terhadap cara pandang orang dewasa melihat Aku sebagai properti, sebagai investasi mereka.
Bimbingan, Bukan Kontrol
Semestinya Aku tidak harus dikontrol, tetapi harus dibimbing untuk memahami makna kehidupan.
Bimbingan berbeda dengan kontrol. Kontrol menekan, sementara bimbingan mengarahkan. Kontrol memaksa, sementara bimbingan membuka ruang dialog. Kontrol menuntut kepatuhan, sementara bimbingan mengajak untuk memahami.
Jika Aku dibimbing, Aku belajar untuk berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan. Aku tidak hanya tahu apa yang harus kulakukan, tetapi juga mengerti mengapa Aku melakukannya,
Kalau Aku sudah dewasa, Aku tidak lagi harus dibimbing, apalagi dikontrol. Aku adalah manusia otonom, yang memiliki pilihan sendiri dan bertanggung jawab atas pilihanku.
Paulo Freire dalam Pendidikan yang Membebaskan mengatakan bahwa pendidikan sejatinya harus membebaskanku, harus menjadikanku sebagai subjek yang sadar bukan sebagai objek yang rapuh yang bisa dieksploitasi seenak jidatmu.
Pendidikan yang membebaskan tidak menghilangkan peran kalian, tetapi mengubahnya dari pengontrol menjadi pendamping.
Feodalisme dan Patriarkis yang Menggurita
Betul kata orang bahwa realitas takseindah ekspektasi.
Aku hidup dalam lingkungan keluarga yang feodal dan patriarki. Ada aturan yang tidak tertulis, tetapi sangat kuat. Seolah-olah mereka orang dewasa selalu benar, dan aku pasti salah.
Dalam lingkungan seperti ini, kebenaran bukanlah hasil dialog, tetapi sesuatu yang diwariskan secara sepihak. Tidak ada ruang untuk mempertanyakan, apalagi menolak.
Aku yang sudah dewasa pun tetap tidak memiliki ruang untuk menentukan pilihanku sendiri. Aku selalu dihadapkan pada pilihan yang bukan milikku. Bahkan ketika Aku memiliki keinginan sendiri, keinginan itu harus disesuaikan dengan kehendak yang lebih besar—kehendak mereka.
Situasi ini membuat Aku hidup dalam tekanan yang tidak selalu terlihat. Tekanan yang halus, tetapi terus-menerus. Tekanan yang tidak selalu diucapkan, tetapi selalu dirasakan.
Antara Pemberontakan dan Ketakutan
Aku ingin memberontak seperti pemberontakan terhadap makna hidup yang dilukiskan oleh Albert Camus. Tetapi lingkungan feodal membungkamku.
Pemberontakanku ini bukan hanya soal tindakan, tetapi juga soal keberanian untuk berbeda. Namun dalam lingkungan yang sangat menekankan kepatuhan, keberanian itu sering dianggap sebagai ancaman.
Aku menjadi takut—takut disebut durhaka, takut dilabeli sebagai anak yang melawan orang tua, takut dikatakan Sampu Raga atau Malin Kundang. Label seperti ini bukan hanya sekadar kata, tetapi menjadi tekanan sosial yang kuat.
Pada akhirnya, Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit: menjadi diri sendiri dan berisiko ditolak, atau menyesuaikan diri dan kehilangan diri. Seperti Idealisme VS Realisme. Aku benar-benar dilema.
Menjadi “Anak Manis” yang tidak Autentik
Aku tumbuh menjadi pribadi yang berpura-pura menjadi anak manis, anak yang patuh, anak yang “baik” menurut standar yang telah ditentukan oleh mereka.
Peran ini dimainkan dengan sangat rapi, bahkan sampai terlihat alami. Tetapi di balik itu semua, aku lelah. Lelah karena harus terus-menerus menyesuaikan diri. Padahal aku tahu adaptasi itu merupakan bentuk penyesuaian diri yang paling rapuh. Sehingga lagi-lagi aku dihadapkan dengan dua pilihan: antara menjadi diri sendiri atau tetap diterima oleh lingkungan,
Dalam kondisi seperti ini, Aku bukan lagi subjek, tetapi objek. Aku bukan lagi manusia yang memilih, tetapi bidak catur yang dimainkan oleh mereka.
Dan ketika Aku terus-menerus hidup dalam pilihan orang lain, Aku perlahan kehilangan kemampuanku untuk memilih. Aku menjadi ragu terhadap diriku sendiri.
Aku menjadi seperti seorang lumpuh yang tidak bisa menghindar dari marabahaya.
Ruang Hidup, Bukan Ruang Kosong
Pendidikan yang seharusnya membebaskan justru menjadi alat penyesuaian. Keluarga yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru menjadi ruang pembatasan.
Dan nilai-nilai yang seharusnya membimbing justru berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apa yang harus dipelajari, tetapi apakah Aku diberi ruang untuk menjadi diriku sendiri?
Karena pada akhirnya, Aku tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kebebasan untuk memahami makna dari pengetahuan itu.
Aku membutuhkan ruang untuk bertanya, meragukan, dan menemukan. Tetapi, sejak awal, bukanlah ruang hidup yang kutemukan, tetapi ruang kosong yang diisi oleh MEREKA.
Latdalam, 24 April 2026.

Komentar