Langsung ke konten utama

Kajian Historis Penyebaran Agama Katolik di Pesisir Timur Pulau Yamdena

Peta Kepulauan Tanimbar

Prolog

Sebelum masuk dan berkembangnya agama-agama besar seperti Hindu-Buddha, Islam, dan Kristen di Indonesia, penduduk Indonesia telah memeluk agama suku (agama primitif). Agama-agama suku itu menganut paham animisme, yakni kepercayaan terhadap roh leluhur atau kekuatan-kukuatan gaib yang menguasai alam semesta. Benda-benda seperti pohon, binatang-binatang, dan tempat-tempat diyakini didiami oleh roh-roh tertentu (Sihombing, 2009: 5).

Agama Hindu-Buddha, Islam, dan Kristen masuk ke Indonesia terutama melalui perdagangan. Sebetulnya, sejak abad pertama Masehi, agama Hindu-Buddha telah masuk dan berkembang di Indonesia, aggama Islam masuk ke Indonesia sejak abad XIII dan pada abad XVI agama Kristen yang kita kenal sekarang ini mulai masuk ke Indonesia melalui imperialisme negara-negara Barat (Eropa). Dengan kata lain, orang-orang Eropa berupaya melebarkan sayap ke sebarang lautan untuk berdagang dan mengeksploitasi rempah-rempah Indonesia, sambari menyebarkan agama Kristen. Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa agama Kristen merupakan agama impor yang di bawah masuk oleh orang-orang Eropa. Tanpa adanya peran orang-orang Eropa, agama Kristen tentu tidak mungkin berada di Indonesia dan tidak pula dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Menurut Ruck (2008: 5) imperialisme negara-negara Barat merupakan sebuah kesempatan bagi para biarawan gereja Katolik Roma untuk mengabarkan injil ke seluruh dunia. Karena penyebaran agama Kristen bergandengan tangan dengan imperialisme Barat tersebut, maka terkesan tidak jauh berbeda dengan imperialisme Barat itu sendiri menurut pandangan negara-negara yang dijajah.

Imperialisme negara-negara Barat lahir dari Perjanjian Tordesillas pada 7 Juni 1494. Perjanjian yang dipimpin oleh Paus Alexsander VI itu, memberikan kewenangan kepada Portugis untuk menguasai dunia belahan Timur dan kepada Spanyol untuk menguasai dunia belahan Barat. Tujuan imperialisme tersebut didasarkan pada semboyan Tiga-G, yakni Gold, Gospel dan Glory (Suryanegara, 2014: 158).

Pada saat Perjanjian Tordesiallas dibuat, Portugis telah berhasil berlayar sampai ke Tanjung Pengharapan, sedangkan Spanyol pada tahun 1492 baru berlayar sampai ke Kepulauan Karibia. Baik Portugis maupun Spanyol pada saat itu belum mengetahui jalur pelayaran ke India atau bahkan ke Nusantara Indonesia, padahal jaringan pelayaran di Nusantara diperkirankan telah berlangsung sejak lama. Meskipun belum diketahui secara pasti kapan pelayaran itu dimulia. Menurut A B. Lapian (dalam Dasfordate, dkk, 2018) sejak abad XIV jaringan pelayaran telah ada dan menjangkau seluruh Nusantara.

Sesungguhnya pengetahuan mengenai jalur pelayaran perdagangan Asia dikuasai oleh para pedagang Islam, namun mereka merahasiakanya. Oleh karena itu tidak ada cara lain bagi Portugis selain mencari jalan sendiri. Ekspedisi Bartolomeus Dias dan Vasco da Gamalah yang memungkin orang-orang Portugis memsuki kawasan emporium Asia (Poesponegoro dan Notosusanto, 2009: 13).

Pada tahun 1510 orang-orang Portugis telah berhasil menaklukan Goa, India yang kemudian menjadi pusat kegiatan politik mereka. Pada tahun 1511 Malaka ditaklukan, kemudian pada tahun 1522, Portugis mulai membangun sebuah benteng di Ternate (Ricklefs, 2008: 45).

Kini Portugis telah memiliki tiga pusat kekuasaan, yakini di Goa, Malaka, dan Ternate yang kemudian dijadikan sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik dan gerejani. Berbeda dengan Goa dan Malaka, kegiatan Portugis di Ternate tidak berlangsung lama. Portugis yang pada awalnya bersekutu dengan Ternate, berubah menjadi kontravensi dan diperluas menjadi peperangan yang besar. Sultan Baabula berhasil mengusir Portugis dari Ternate. Orangg-orang Portugis kemudian melarikan diri ke Ambon dan membangun sebuah benteng di sana. Sejak itu, Pulau Ambon menjadi pusat penyebaran agama Katolik. Namun kesuksesan Portugis di Ambon tidak bertahan lama karena VOC yang beragama Protestan menduduki Ambon pada tahun 1605, mereka menaklukan serta mengusir orang-orang Portugis dan semua misionaris dari sana. Hengkanya semua misionaris dari Ambon, menandai berakhirnya misi Katolik di Maluku. Pada saat yang sama, gereja-gereja di Belanda meminta kepada VOC agar mengadakan pekabaran injil di wilayah-wialayah yang penduduknya telah beragama Katolik maka pada awal abad XVII penduduk Ambon yang beragama Katolik beralih menjadi Protestan. Para rohaniawan Katolik di Pulau Ambon yang diusir tersebut melarikam diri ke Nusa Tenggara Timur dan membangun sebuah benteng di pulau Solor (Poesponegoro dan Notosusanto, 2009: 21-23).

Pada tahun 1888 beberapa misionaris Katolik dari Larantuka, Flores datang ke Tual, Maluku Tenggara. Di sana gereja Protestan telah mengadakan pekebaran injil dan menetapkan pendeta-pendetanya di beberapa tempat; agama Islam juga semakin berkembang pesat. 

Perkembang Protestan dan Islam di Maluku Tenggara yang sudah tertanam kuat dan makin merambat, menyebabkan para misionaris (setelah hampir setahun barada di Tual) tidak menanamkan pengaruh apapun, oleh karena itu separuh dari misonaris Katolik tersebut kemabli ke Larantuka. Hanya pastor Kurster yang bertahan. Dia kemudian sukses menyebarkan agama Kaolik di Maluku Tenggara. Menurut Bhom (2021: 9) pada tahun 1889 pastor Kuster membaptis seorang anak di Langgur dan pada tahun yang sama, sekitar 533 orang di Langgur memeluk Katolik.

Penyebaran agama Katolik di Maluku semakin pesat. Ketika Misionaris Hati Kudus Yesus (Missionarii Secraissime Ieus, yang kemudian disingkat MSC) menggantikan Serikat Yesus (kemudian disingkat SJ) dan pada tahun 1903, Misionaris MSC dipercaya untuk menjalnkan misi Katolik di Maluku dan Papua, maka penyebaran agama Katolik pun semakin masif di seluruh Maluku. Frits Herman Pangemanan (dalam Wuarmanuk, 2018) menjelaskan bahwa corak postural saat itu adalah mempromosikan mission extensive, yakni memperluaskan wilaya pelayanana hingga sejauh mungkin kendati seluruh wilayah itu belum dilayani secara intensif. Hal ini kemudian yang menjadi alasan bagi para misionaris untuk “melebarkan sayap” menuju Tanimbar.

Penyebaran agama Katolik di Pulau Tanimbar berbeda dengan di Pulau Kei. Meskipun orang-orang Tanimbar telah bersentuhan langsung dengan pedagang Bugis-Makasar sejak abad XV dan kemudian disusul oleh Belanda dan Inggris pada abad XVII (Lihat: Dasfordate, dkk, 2018) namun pengaruh Islam hanya berakar pada orang-orang di Pulau Labobar dan Kilon, sedangkan Penginjil Protestan telah masuk dan menginjil di Pulau Larat dan Fordata (Tanimbar Utara). Tetapi di pesisr timur Pulau Yamdena misi Katolik telah sukses. Hal ini ditandai dengan pembaptisan pertama penduduk Olilit pada tahun 1913. Kemudia pada tahun 1917 Pater Drabbe diutus ke Awear untuk menyebarkan agama Katolik di sana, namun karena Pulau Larat dan Fordata berada dalam bayang-bayang Protestan dan alasan keamanan maka pater Drabbe kemabli ke Olilit.

Dari Olilit hingga Alusi dan Meyano

1. Olilit

Pembaptisan massal di Ollit, 24 Juli 1913
Pada permulaan tahun 1911 Pater Neyens mengutus Pater Josep Klerks MSC dan Pater Edward Cappers MSC bersama dua guru katekis dari Langgur, yakni Daminus Maturbongs dan Fenantius Maturbong mengunjungi Tanimbar. Pater Klerks mulai menetap di Olilit sebagai pusat stasi, sementra Pater Cappres pergi ke Lauran agar dapat menjangkau daerah-daerah lain sepanjang Pesisir Timur. Peda 6 januari 1911 Peter Louis Nuewenhius MSC tiba di Tanimbar sebagai tenaga mesionaris ketiga yang memperkuat tim pastoral awal. Pada pertenaghan tahun, Bruder G. Jeanson MSC datang dari Merauke. Mereka segera merancang pembangunan rumah-rumah pastoran, gereja, dan fasilitas-fasilitas sekolah yang sederhana. Sebelum itu, pada tanggal 5 Januari kapal Malaram tiba di Tanimbar dengan membawa sekitar 40 orang tentara yang dipimpinan Letanan van dan Boss Sehe untuk mengamankan situasi sosial yang masih dicekam ketakutan adanya pengayuan (pemotongan kepala) yang merasuk hingga ke Amtufu (Lorulung) dengan tokohnya “Belak” (mpelak /belyaki) dan para pengikutnya.

Sejak kedatangan para militer Portugis itu, Pater Neuwenhuis dan Pater Joseb Klerkes semakain leluasa menangani sekolah dan pelayanan umat sekitarnya. Sementara pater Capres terus menekuni di Lauran dan wilayah tetangganya Amtufu. Para imam itu telah belajar dari pengalaman untuk tidak secepatnya membaptis kilat dan massal penduduk Yamdena. Perioritas pengembangan umat adalah membina mereka dalam iman tanpa memaksakan pembaptisan masal yang mengejar jumlah. Kebijakan ini menjadi perioritas sejak awal masuknya misi Katolik.

2. Lauran

Lauran sebelum tahun 1920

Di wilayah-wilayah lain pesisir Yamdena, para misionaris dan umat setempat tak kalah giat membangun. Di Lauran Pater Capres penuh semangat telah merebut hati penduduknya. Ia menulis beberapa kampung ini pada tanggal 18 Agustus 1911 di jurnal Annalen di Belanda (edisi tahun 1912).

3. Lorulung

Pater Capres juga mulai menjelajahi daerah-dareha sekitar, termasuk kampung Lorulung di ujung peisisir sebelahnya, yang dikenal kala itu sebagai Amtufu. Kampung itu segera menjadi stasi induk yang cocok untuk wilayah itu karena jumlah penduduk cukup banyak. Sejak tahun 1911, Amtufu dilayani oleh pater Capres secara bergantian dengan Pater Nieuwnhuis, yang juga sibuk mengunjungi desa Wowonda. 

4. Wowonda

Sudah sejak tahun 1911 Pater Nieuwenhuis membagi waktu untuk mengunjungi dan mengembangkan juga umat baru di Wowonda, yang letaknya tidak begitu juah dari Lauran. Dia menyelasaikan banyak kasus perkawinan adat yang masih berciri poligami serta kecenderungan perkawinan antara keluarga dekat. Hal itu tentu tidak mudah, Pater Nieuwenhuis dengan bijaksana harus mengatur pertemuan-pertemuan adat dengan sejumlah kesepakatan yang kerap didorong dengan memberi imbalan untuk perbaikan. Dengan kesabaran dan penuh pengertian mulai memperkenalkan model perkawianan yang diajarkan oleh gereja Katolik, yaitu monogami (beristri tunggal/satu) yang tidak menghendaki perceraian dan juga perkawinan saudara dekat.

Semangat besar umat dan kaum remaja serta anak-anak, membuat Pater Nieuwenhuis harus meminta bantuan Fenantius Maturbongs dan Uru Alexander Rettob sebagai guru ketekis (yang tiba bulan Februari 1912 untuk Sifnana dan Wowonda) untuk membantu pembinaan anak-anak dan remaja dalam bidang pendidikan di sekolah dan di gereja. Setelah itu, dilakukan pembaptisan massal bersama baptisan baru anak-anak di desa itu.

Dalam tahun-tahun awal ini, Pater Nieuwenhuis dan Pater Capres tetap meluangkan waktu mengunjungi wilayah-wilayah baru. Mereka berangkat ke Seira bersama 4 pemuda Tanimbar dan seorang juru masak dari Kei, dalam perjalan mereka singga di Seluasa tetapi tidak ada penduduk di sana. Kampung itu ternyata baru diserang oleh Belanda karena kasus pembunuhan. Mereka mampir di salah satu dusun Seluasa yang bernama Pnu Timpe, yang rupanya berbahasa sangat lain dari pesisir Yamdena. Di sana mereka berjumpa dengan penduduk setempat yang gembira menyambut mereka dan berharap mendapatkan kunjungan lanjutan. Hari berikutnya mereka menyebrang ke Seira dan tinggal beberapa hari di sana. Kebanyakan dusun yang mereka kunjungi tidak ada penduduknya.

5. Sangliat Krawain

Gereja Katolik pertama di Tanimbar didirikan pada tahun 1915 (Gereja Katolik Sangliat Krawain)

Pada Maret 1911 Pater Kelerkes ditemani Pater Capres bersama dua pria dari Olilit yang bernama Ken Lalinaman dan Ken Masel mengunjung Sangliat Krawain dengan menggunakan perahu layar (Boot Mathias). Mereka melewati sungai Balmyafuti dan tiba di Tnyafar (tempat memasak sopi dan minum sagero). Para pemuda Olilit itu menjelaskan kepada penduduk setempat bahwa pastor Klerkes akan menetap di situ sedangkan rombongan lain akan kembali lagi ke Olilit dalam waktu singkat. Penduduk desa ramai memperbincangkan tentang kehadiran para tamu dan usaha pastor itu untuk menetap di situ. Atas kebaikan seorang warga, yang bernama Kenbwarken, Pater Klerkes diberikan pemomdokan sementara (sebuah Tnyaafar) miliknya di desa tersebut. Dari tempat pondok sederhana itu, Pater Klerkes memulai karya misi dengan menungundang dan berbincang dengan para warga. Dalam waktu amat singkat, ia telah lancar berbahasa Yamdena. Setelah itu, ia berkeliling ke wilayah-wilayah sekiatar dan menemui para warga tanpa perasaan takut dan kawatir. Karena kedekatanya dengan penduduk setempat, maka pemimpin-pemimpin terkemuka kampung itu, memberikan sebidang tanah (seluas 50 x 30 meter) di sebelah Barat desa kepadanya untuk kepentingan pelayanan misi. Dengan fasilitas itu, Pater Klerkes pun merancang pembangunan aneka fasilitas yang dibutuhkan. Karena memiliki pelabuhan yang aman, maka banyak muatan barang, termasuk bahan makanan, perlengkapan bangunan, (kalang, papan, rangka kayu, dll) dan obat-obatan dari Olilit, dengan gampang dikirim ke tempat itu. Pater Klerkes segera mengajak umatnya untuk mempersiapkan membangun gedung gereja. Mereka dibantu oleh Bruder Corneles Boeres MSC yang datang memperkuat misi Tanimbar pada tahun 1913. Pembangunan gereja pertama di Tanimbar itu ikut dipercepat. Di samping itu, mereka juga membangun sebuah pastoran yang sederhana dengan tiga kamar dan sebuah ruang kecil untuk apotek. Pada tahun 1915, bangunan gereja itu siap dipakai dan menjadi gereja Katolik petama di pesisir tumur pulau Yamdena. Sementara kampung-kampung lain masih mengunkan gedung sekolah sebagai tempat doa dan perayaan ekaristi.

6. Kilmasa dan Alusi

Menjelang akhir tahun 1912, Pater Capres secara khusus memberi perhatian kepada dua kampung dekat Meyano yakni Kilmasa dan Alusi. Apalagi kampug Kilmase dengan terbuka mengajukan permohonan untuk dikunjungi ketika para misionaris mengunjungi Meyano Bab. Sementara itu, sesai dengan ajuaran Peter Neyens perlu segera dijadikan stasi penting di Alusi. Dengan demikian, pemerintah setempat dengan giat mengusahakan membuka dan melebarkan jalan-jalan antar wilayah pesisir hingga memudahkan misionaris mengunjungi kampung-kampung.

Dalm suatu kunjungan ke Kilmasa pada akhir Januari 1913, Pater Capres berniat segera ke Alusi, karena mengetahui berita dari Pater Neyens bahwa pada 23 Januari 1913 akan dikirim bahan-bahan untuk pembangunana pastoran di desa itu. Bahan-bahan tersebut, tengah disiapakan di Olilit oleh 3 orang tukang dari Kei. Pada 29 Janari 1913 Pater Neyens, membawa kiriman barang barang ke Alusi, tetapi di tengah perjalanan (di depan desa Sifnana) tertimpa badai. Para penumpangnya, termasuk pater Neyens selamat dari musiba itu, tetapi semua muatan bangunan untuk gereja Alusi tenggelam dan hilang dimakan laut.

7. Kilmasa

Pada tahun 1912 rombongan misionaris yang dipimpin Pater Klerkes mengunjungi Kilmasa. Kampung yang terletak di pinggir laut itu tampaknya kurang teratur dan kotor. Dengan sejumlah babi berkeliaran. Menurut pater Klerkes, wilayah ini perna dikunjungi sebuah kapal tetapi terjebak di karang dan karam hingga tertanam di sana yang pada air surut terlihat ujungnya.

Kunjungan lanjutan ke Kilmasa beberapa kali dilakuakan oleh pater Capres. Ia bahkan sempat mendirikan sekolah dengan sejumlah murid—sekitar 40 anak-anak dengan dukungan yang besar dari umat setempat. Namun, Kilmasa ternyata juga di incar kaum Protestan yang tentu saja menimbulkan persolaan besar dengan umat yang lebih memilih misi Katolik. Sementara itu, para pegawai Ambon mendorong datangnya guru Ambon ke desa yang tentram itu sehingga menambah sulit keadaan misi. Akhir Januari 1913 Pater Kamresi menulis keadaan sulut itu di jurnal Analen (dalam Pangemanan 2014) bahwa “Tanggal 13 Januari 1913, saya berhasil membuka sekolah di sini dengan jumlah 40 murid, semuanya anak laki-laki. Atas keheranan saya, tibalah pada tanggal 23 Januari seorang guru Protestan, yang tentu saja inign suapaya pada kesempatan pertama saya gulung tikar dan berangkat dari sini. Kemudian ia tawarkan untuk mengambil ahli separu murid-muridku. Tentu saya tidak setuju. Namun ada semacam peraturan berlaku di sini yang menentukan bahwa di tempat ada pejabat suatu agama tertentu, di situ agam lain tidak boleh masuk.” Dalam peristiwa itu, Pater Cappers tak ingin konfrontasi dengan umat yang sangat dihargainya. Usaha untuk menetap di Kilmasa akan menimbulkan gesekan yang lebih parah yang membahayakan keadaan masyarakat. Oleh karena itu, ia memilih meninggalkan tempat itu tetapi antusiasme masyarakat tak mengurangi semangatnya karena kebanyakan masyarakat Tanimbar di Pesisir Timur telah teguh menerima misi Katolik dan tak ingin menerima pengaruh apapun dari kalangan pendatang Ambon yang beragama Protestan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

17+8: Tuntutan Rakyat hingga Bayang-bayang Revolusi

Tulisan ini saya persembahkan untuk Almarhuma adik ipar saya, yang pada hari ini genap satu bulan telah meninggalkan kita. Kehadirnya telah tiada, namun kasih, canda, tawa dan kenangan indahnya tetap hidup dalam hati kami. Dalam kesedihan ini, saya menulis sebagai penghormatan sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan bagi mereka yang kita cintai adalah warisan yang harus dijaga.   Gambar: OKP Tanimbar bersatu dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan.   UUD 1945 memberikan mandat agar negara mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan masyarakatnya . Namun setelah delapan dekade merdeka, cita-cita itu masih terasa jauh dari kenyataan. Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 menegaskan, “Merdeka hanyalah jembatan emas.” Merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju masyarakat adil dan makmur. Tetapi, jembatan itu hingga kini masih retak, dipenuhi lubang ketidakadilan, dan dipelihara oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga amanah rakyat. Kenyat...

Ketika Tanah Lebih Murah dari Rokok Tabaku Daun Putih: Konflik Tapal Batas dan Politik Tanah di Tanimbar

MT. Empung, Tomohon Gagasan tentang tanah dan konflik yang mengelilinginya sebenarnya sudah muncul di kepala saya sejak saya mendaki Gunung Empung, Tomohon. Baru hari ini saya menuliskannya, setelah semalam saya berdiskusi panjang dengan beberapa teman dan salah satu tokoh masyarakat yang memiliki ambisi untuk maju sebagai bakal calon kepala desa definitif Desa Latdalam. Percakapan itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan tanah di desa kita bukan sekadar soal batas wilayah, tetapi soal masa depan masyarakat itu sendiri. Tanah Murah di Tanah Kaya Ada satu ironi besar yang sedang terjadi di Kepulauan Tanimbar. Di wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam besar, tanah masyarakat justru pernah dijual dengan harga sekitar Rp10.000–Rp14.000 per meter. Sementara itu harga "tabaku daun putih" (Tembakau Shag : salah satu jenis tembakau iris yang merupakan primadona bagi parah perokok ulung di Desa Latdalam) di wilayah yang sama sekitar Rp15.000 per bungkus. Tidak sesederhana...

KOLONIALISME SINDROM DALAM RUANG-RUANG KELAS

  Foto: Rutinitas Guru Honorer , berjalan ke Sekolah sebelum pukul 07.00 pagi yang penuh dengan dedikasi meskipun dengan keterbatasan fasilitas dan penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka. Bayangkan, setiap sebelum pukul 07.00 pagi ia sudah berjalan kaki ke Sekolah. Ia harus bangun setiap subuh, meninggalkan keluarganya tanpa sarapan. Sudah menjadi rutinitas yang ia lakoni dengan kesabaran yang luar biasa, padahal setiap akhir bulan ia hanya menerima upah Rp500 ribu: Rp250 ribu dari dana BOS , dan Rp250 ribu dari uang komite siswa. Lima ratus ribu rupiah untuk sebulan penuh—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk  kebutuhan pokoknya. Ya... ia adalah seorang guru honorer di sebuah desa terpencil yang berkilo-kilo jaraknya dari “Mama Kota.” Inilah wujud dari pendidikan di “ Negeri Konoha ” hari ini yang masih berkutat pada kolonialisme sindrom . Guru honorer dituntut menjalankan kurikulum baru dan ikut pelatihan daring , tapi gaji mereka bergantung pada dan...