Jemariku kaku hingga membeku ketika menulis tentangmu. Berlinang-linang di mata ketika melihat peristiwa berdarah yang kerap terjadi di negeriku.
Dahulu kita hidup berdampingan (baku kele), sangat harmonis dengan adat istiadat dan budaya (serimfet-serimuan) yang kita miliki, bahkan di negeri lain pun jarang di jumpai. Namun kini hilang ditelan waktu!
Sebuah persoalan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan (adat) dan mengharapkan kehadiran bapak kaya (pemimpin/pemerintah) sebagai pengadili sekaligus memberikan motivasi serta solusi pun tak kunjung tiba. Sifatnya oportunis, perjuangannya bukan untuk rakyat melainkan untuk diri sendiri hingga konflik sosial yang terjadi bukan pertanda bahwasanya kita sedang mengalami modernisasi yang sifatnya tertib sosial melainkan modernisasi yang memorak-porandakan dan berujung disintegrasi.
Bukankah istilah perubahan, kemajuan, revolusi, dan pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern?
Yaa.... Modernitas yang menuntut perubahan, pertumbuhan, kemajuan hingga revolusi yang menitikberatkan pandangannya terhadap tumbuhnya sains, teknologi, ekonomi kapitalistik, kini telah mendorong serta memobilisasikan kita hingga melupakan hakikat sejati kebudayaan yang telah diwariskan.
Sadarilah.. Kita diperbudak dengan modernisasi yang sifatnya tentatif yang berusaha mengeksploitasi kekayaan dan serta-merta mempengaruhi pola pikir dan tindakan yang sudah merenggut nyawa kita sendiri.
Modernitas bukan tentang perubahan, kemajuan, revolusi, serta pertumbuhan di berbagai bidang seperti teknologi, ekonomis, sains, dan sosiologis belaka yang mana kapitalistik memainkan peranan kunci melainkan modernitas adalah perubahan bentuk-bentuk kesadaran dan pola-pola berpikirnya kita yang akan membawa kita ke tengah-tengah samudera, berenang dengan jutaan gelombang dan mampu untuk mendeteksi serta mengetahui kedalaman lautan.
Masyarakat modern adalah masyarakat yang memiliki kesadaran pola pikir yang melakukan reinterpretasi serta menjaga dan melestarikan adat istiadat dan kebudayaannya. Dengan demikian akan terwujudnya integrasi sosial, konsensus yang bersifat moral dan keadilan sosial.
INGAT!!!
NEGERIKU BUKAN NEGERIMU DAN NEGERIMU BUKAN NEGERIKU TAPI NEGERIKU DAN NEGERIMU ADALAH NEGERI KITA.
Tondano, 17 Februari 2020
Dahulu kita hidup berdampingan (baku kele), sangat harmonis dengan adat istiadat dan budaya (serimfet-serimuan) yang kita miliki, bahkan di negeri lain pun jarang di jumpai. Namun kini hilang ditelan waktu!
Sebuah persoalan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan (adat) dan mengharapkan kehadiran bapak kaya (pemimpin/pemerintah) sebagai pengadili sekaligus memberikan motivasi serta solusi pun tak kunjung tiba. Sifatnya oportunis, perjuangannya bukan untuk rakyat melainkan untuk diri sendiri hingga konflik sosial yang terjadi bukan pertanda bahwasanya kita sedang mengalami modernisasi yang sifatnya tertib sosial melainkan modernisasi yang memorak-porandakan dan berujung disintegrasi.
Bukankah istilah perubahan, kemajuan, revolusi, dan pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern?
Yaa.... Modernitas yang menuntut perubahan, pertumbuhan, kemajuan hingga revolusi yang menitikberatkan pandangannya terhadap tumbuhnya sains, teknologi, ekonomi kapitalistik, kini telah mendorong serta memobilisasikan kita hingga melupakan hakikat sejati kebudayaan yang telah diwariskan.
Sadarilah.. Kita diperbudak dengan modernisasi yang sifatnya tentatif yang berusaha mengeksploitasi kekayaan dan serta-merta mempengaruhi pola pikir dan tindakan yang sudah merenggut nyawa kita sendiri.
Modernitas bukan tentang perubahan, kemajuan, revolusi, serta pertumbuhan di berbagai bidang seperti teknologi, ekonomis, sains, dan sosiologis belaka yang mana kapitalistik memainkan peranan kunci melainkan modernitas adalah perubahan bentuk-bentuk kesadaran dan pola-pola berpikirnya kita yang akan membawa kita ke tengah-tengah samudera, berenang dengan jutaan gelombang dan mampu untuk mendeteksi serta mengetahui kedalaman lautan.
Masyarakat modern adalah masyarakat yang memiliki kesadaran pola pikir yang melakukan reinterpretasi serta menjaga dan melestarikan adat istiadat dan kebudayaannya. Dengan demikian akan terwujudnya integrasi sosial, konsensus yang bersifat moral dan keadilan sosial.
INGAT!!!
NEGERIKU BUKAN NEGERIMU DAN NEGERIMU BUKAN NEGERIKU TAPI NEGERIKU DAN NEGERIMU ADALAH NEGERI KITA.
Tondano, 17 Februari 2020
Komentar