Kata yang Disederhanakan oleh Zaman
Apa itu romantisme? Apakah romantis sama dengan romantisme?
Di tengah budaya yang serba instan, banyak istilah besar kehilangan kedalamannya. Kita hidup di era caption singkat, potongan video 30 detik, dan definisi yang diambil dari satu sumber tanpa ditelusuri ulang. Akibatnya, kata “romantisme” sering direduksi menjadi sekadar suasana percintaan atau kemesraan.
Padahal romantisme bukan soal makan malam berlampu lilin.
Romantisme adalah gerakan intelektual.
Romantis adalah sifat perasaan.
Kesalahan memahami keduanya bukan sekadar kekeliruan bahasa, melainkan cermin dari cara berpikir generasi yang terbiasa dengan ringkasan, bukan kedalaman.
Perlawanan terhadap Dunia yang Terlalu Rasional
Romantisme lahir pada akhir abad ke-18 di Eropa sebagai respons terhadap rasionalisme dan Revolusi Industri. Dunia saat itu bergerak cepat menuju modernitas. Mesin menggantikan manusia, kota-kota membesar, dan akal dianggap sebagai pusat segala kebenaran.
Namun di balik kemajuan itu, muncul kegelisahan.
Jean-Jacques Rousseau menjadi salah satu tokoh penting yang membuka jalan bagi semangat romantisme. Dalam The Social Contract (1762), ia menulis: “Man is born free, and everywhere he is in chains.” Kalimat ini bukan sekadar kritik politik. Ia adalah kritik terhadap peradaban yang membuat manusia kehilangan kebebasannya sendiri. Rousseau percaya bahwa manusia pada dasarnya baik, tetapi sistem sosial dan struktur modern sering kali merusak kemurnian itu.
Semangat inilah yang kemudian dihidupkan dalam gerakan romantisme:
Mengangkat emosi sebagai sumber kebenaran
Mengembalikan manusia pada alam
Menekankan kebebasan individu
Mengkritik modernitas yang terlalu mekanistik
Romantisme adalah suara hati yang menolak dunia yang terlalu dingin.
Sifat yang Personal dan Kontekstual
Sementara itu, menurut KBBI, romantis berarti:
Bersifat seperti dalam cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan.
Romantis adalah suasana.
Ia bisa hadir dalam sepucuk surat, dalam senja yang menggetarkan perasaan, atau dalam momen sederhana yang terasa intim.
Namun romantis bukanlah aliran pemikiran. Ia tidak lahir dari pergulatan sejarah seperti romantisme.
Menyamakan keduanya adalah bentuk penyederhanaan makna.
Antara Cepat Mengutip dan Lambat Memahami
Di era digital, kita mudah sekali mengutip tanpa membaca, membagikan tanpa memahami, dan menyimpulkan tanpa menelusuri. Kata “romantisme” sering digunakan hanya karena terdengar indah, tanpa pernah dipertanyakan akar sejarahnya.
Ini bukan semata kesalahan individu, melainkan gejala zaman.
Generasi hari ini dibesarkan dalam budaya instan. Informasi tersedia cepat, tetapi refleksi sering tertinggal. Istilah besar seperti romantisme menjadi korban penyederhanaan.
Padahal jika kita kembali pada Rousseau, romantisme justru lahir dari kegelisahan mendalam terhadap sistem yang membelenggu manusia. Ia bukan sekadar perasaan lembut, tetapi sikap kritis terhadap dunia.
Ironisnya, di zaman yang penuh kebebasan digital, kita justru sering terbelenggu oleh pemahaman yang dangkal.
Menjaga Makna, Menjaga Kesadaran
Membedakan romantisme dan romantis mungkin terlihat sepele. Namun di situlah latihan berpikir dimulai. Bahasa bukan sekadar bunyi atau tulisan; ia adalah warisan sejarah dan refleksi pemikiran manusia.
Romantisme adalah gerakan intelektual dan artistik yang lahir dari perlawanan terhadap modernitas yang kaku. Romantis adalah ekspresi perasaan yang bersifat personal. Keduanya tidak sama.
Memahami perbedaan ini bukan hanya soal definisi, tetapi soal sikap terhadap pengetahuan. Di tengah budaya yang menyukai kecepatan, memilih untuk memahami secara mendalam adalah bentuk kecil dari kesadaran kritis.
Dan mungkin, dalam arti tertentu, itulah semangat romantisme yang sesungguhnya: menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang terlalu cepat bergerak.
Tondano, 13 Januari 2020
Komentar