Indonesia membutuhkan anak muda yang sadar akan kepemudaannya? Ataukah Indonesia membutuhkan anak muda, yang muda dan terpelajar yang potensial memasuki dan memperkuat sistim kapital? Sebuah pertanyaan yang biasa namun sangat fundamental.
Anak muda, adalah ungkapan kata yang semakin merosot maknanya jika ditilik dari dinamika sosial saat ini. Semacam stigmatisasi yang kerap dilontarkan untuk mereka. Bahwa pemuda adalah generasi rebahan, bahwa pemuda adalah generasi perusak. Padahal jika dirunut dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sangat absurd untuk meniadakan peran pemuda. Pemuda pada saat itu adalah pemuda yang sadar akan “kepemudaannya”, yang sadar akan tindakannya! Dengan penuh semangat berusaha untuk mengetahui kearifan hari lampau untuk menguasai hari ini dan merintis hari depan. Di tangan kaum mudalah bangsa Indonesia terlepas dari kemiskinan dan kebodohan serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa, sehingga mencapai klimaks dengan slogan “Indonesia Merdeka”.
Ada semacam praduga historis yang mengatakan bahwa kini dan nanti pemuda akan tetap memainkan peranannya...
Jadi, apakah peran pemuda hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia saja?
Pasca kemerdekaan Indonesia hingga reformasi, tidak pula terlepas dari perjuangan pemuda. Karena pemuda bukan hanya sekedar kategori demografi, pemuda tidak sekedar terbawa oleh keharusan struktural saja, tapi dapat membuat pilihan dari kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam struktur itu, berusaha untuk berdialog dengan lingkungan dan zamannya, perbuatannya adalah hasil interpretasi terhadap lingkungannya.
Kini, di tengah-tengah kecemasan dunia terhadap pandemi global covid-19 yang dampaknya luar biasa dahsyat terhadap dinamika kehidupan sosial, politik dan ekonomi menuntut kehadiran pemerintah untuk mengatasi problematika ini, namun kebijakan yang dilakukan sifatnya tentatif. Belum lagi pembahasan UU Omnibus law cipta kerja yang dinilai akan menyengsarakan para pekerja (buruh). Untuk itu, sangat mengharapkan sebuah kekuatan besar sebagai penetrasi agar dapat memberikan semacam alternatif berupa kritikan yang diekspresikan lewat tindakan demonstran, aksi mogok dll.
Semuanya tidak lepas dari kesadaran dan perjuangan pemuda. Oleh sebab itu, di mana pun juga pemuda akan tetap memainkan peranannya. Karena pemuda adalah fenomena historis, pemuda adalah aktor sejarah!
Tondano, 01 Mey 2020.
Komentar