Langsung ke konten utama

KULMINASI PENDERITAAN

KULMINASI PENDERITAAN

Ditengah-tengah masyarakat kontemporer yang telah didominasi oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki hingga regulasi cenderung determinasi patriarki, bahkan dalam pergaulan pun sangat vulgar dengan sifat maskulin yang mengucilkan tanpa mempertimbangkan hak-hak perempuan.

Stigmatisasi bahwa perempuan adalah anak yang bertubuh besar tapi otaknya tak berisi, seperti di dalam tradisi masyarakat Yahudi, yang selalu mengucap syukur karena tidak terlahir sebagai seorang perempuan dan seorang budak.

Tidak ada sedikit pun pujian bagi kaum perempuan??

Bukankah ketika NAZI (partai politik) menguasai Jerman, dengan totalitarian Hitler, mempropaganda, memobilisasi, membungkam rakyat. Dengan totalitas membakar buku-buku yang dianggap merusak dan tidak sesuai dengan cita-cita pemerintahannya, namun seorang perempuan yang katanya tak berisi otak itu berdiri kokoh, dengan kritikan tajam dapat menumpas kedokteran Hitler. Dialah Hannah Arendt, sosok feminis yang tak pernah menyerah untuk memperjuangkan hak - hak minoritas.

Sejarah perempuan tak bisa kau lupakan, kendati semua buku-buku tentang keadilan berhasil kau bumihanguskan namun semuanya telah kau lekatkan pada tubuh perempuan. Sejak dalam kandungan hingga menjadi perempuan dewasa pun telah tersakiti. Sebut saja Audre Lorde seorang aktivis perempuan, yang lahir sebagai wanita kulit hitam, kaum minoritas di Amerika. Bukan hanya diskriminatif terhadap minoritas tapi sebagai seorang janda ber-anak lima yang harus menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi anak-anaknya, ia pun seorang heteroseksual yang memiliki ruang gerak terbatas, melakukan relasi seksual hanya bisa di dalam ruangan yang mungkin seluas 2×3cm (Toilet). Apakah kebijakan Negara hadir untuk mengakomodir problematik semacam ini?

Lihat saja keadaan di dalam Negeri, pastikan tak terhingga jika mengetahui indeks kemaskulinan kebiadaban pada masa kini, yang tak henti-hentinya melakukan pencabulan, kekerasan seksual, KDRT, bahkan pembunuhan terhadap kaum perempuan. Lantas hukuman yang diberikan tidak mempertimbangkan keadaan psikis “pelaku”, sehingga kejahatan seksual terus saja terjadi.

BERSAMBUNG

Tondano, 05 Maret 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

17+8: Tuntutan Rakyat hingga Bayang-bayang Revolusi

Tulisan ini saya persembahkan untuk Almarhuma adik ipar saya, yang pada hari ini genap satu bulan telah meninggalkan kita. Kehadirnya telah tiada, namun kasih, canda, tawa dan kenangan indahnya tetap hidup dalam hati kami. Dalam kesedihan ini, saya menulis sebagai penghormatan sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan bagi mereka yang kita cintai adalah warisan yang harus dijaga.   Gambar: OKP Tanimbar bersatu dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan.   UUD 1945 memberikan mandat agar negara mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan masyarakatnya . Namun setelah delapan dekade merdeka, cita-cita itu masih terasa jauh dari kenyataan. Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 menegaskan, “Merdeka hanyalah jembatan emas.” Merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju masyarakat adil dan makmur. Tetapi, jembatan itu hingga kini masih retak, dipenuhi lubang ketidakadilan, dan dipelihara oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga amanah rakyat. Kenyat...

Ketika Tanah Lebih Murah dari Rokok Tabaku Daun Putih: Konflik Tapal Batas dan Politik Tanah di Tanimbar

MT. Empung, Tomohon Gagasan tentang tanah dan konflik yang mengelilinginya sebenarnya sudah muncul di kepala saya sejak saya mendaki Gunung Empung, Tomohon. Baru hari ini saya menuliskannya, setelah semalam saya berdiskusi panjang dengan beberapa teman dan salah satu tokoh masyarakat yang memiliki ambisi untuk maju sebagai bakal calon kepala desa definitif Desa Latdalam. Percakapan itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan tanah di desa kita bukan sekadar soal batas wilayah, tetapi soal masa depan masyarakat itu sendiri. Tanah Murah di Tanah Kaya Ada satu ironi besar yang sedang terjadi di Kepulauan Tanimbar. Di wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam besar, tanah masyarakat justru pernah dijual dengan harga sekitar Rp10.000–Rp14.000 per meter. Sementara itu harga "tabaku daun putih" (Tembakau Shag : salah satu jenis tembakau iris yang merupakan primadona bagi parah perokok ulung di Desa Latdalam) di wilayah yang sama sekitar Rp15.000 per bungkus. Tidak sesederhana...

KOLONIALISME SINDROM DALAM RUANG-RUANG KELAS

  Foto: Rutinitas Guru Honorer , berjalan ke Sekolah sebelum pukul 07.00 pagi yang penuh dengan dedikasi meskipun dengan keterbatasan fasilitas dan penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka. Bayangkan, setiap sebelum pukul 07.00 pagi ia sudah berjalan kaki ke Sekolah. Ia harus bangun setiap subuh, meninggalkan keluarganya tanpa sarapan. Sudah menjadi rutinitas yang ia lakoni dengan kesabaran yang luar biasa, padahal setiap akhir bulan ia hanya menerima upah Rp500 ribu: Rp250 ribu dari dana BOS , dan Rp250 ribu dari uang komite siswa. Lima ratus ribu rupiah untuk sebulan penuh—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk  kebutuhan pokoknya. Ya... ia adalah seorang guru honorer di sebuah desa terpencil yang berkilo-kilo jaraknya dari “Mama Kota.” Inilah wujud dari pendidikan di “ Negeri Konoha ” hari ini yang masih berkutat pada kolonialisme sindrom . Guru honorer dituntut menjalankan kurikulum baru dan ikut pelatihan daring , tapi gaji mereka bergantung pada dan...