Hal yang lebih ironis lagi, siswa (di hampir setiap sekolah pelosok) tidak
diperlakukan sebagai subjek belajar, melainkan objek yang bisa dimanfaatkan.
Misalnya, kegiatan “Jumat Bersih” sering berubah menjadi eksploitasi: siswa
disuruh menyapu, mencabut rumput, bahkan mengangkut pasir dan batu saat
renovasi sekolah, semua dibungkus dengan dalih gotong royong, padahal sejatinya
adalah pemerasan tenaga.
Masalah bertambah ketika sebuah program (di sebuah sekolah di desa lain
di Konoha) yang diluncurkan sebagai efisiensi dalam proses belajar, yakni “ujian
daring” yang diberlakukan tanpa pertimbangan kondisi nyata. Siswa diwajibkan
memiliki smartphone—padahal banyak keluarga di pelosok yang ekonominya
tergolong tidak mampu, tentu tidak dapat membelinya. Pihak sekolah ataupun stakeholder
terkait juga tidak pernah
mensosialisasikan dampak negatif penggunaan gadget, sehingga alih-alih sebagai
alat belajar, smartphone menjadi media bagi siswa untuk mengakses konten
negatif, menyebarkan hoaks melalui Facebook, Instagram, dan WhatsApp, bahkan
bermain Game
Online hingga larut malam, mereka takambil pusing dengan
tugas utama mereka yang katanya belajar, belajar dan belajar.
Ujian daring atau ujian Online (apapun itu sebutanya) tentu
memerlukan koneksi Internet dan kuota atau paket data internet, sementara infrastruktur
internet di desa sangat jauh dari ideal dan paket data internet sangat mahal.
Jaringan internet sepenuhnya tergantung pada listrik PLN. Ketika listrik padam (hal
ini sering terjadi) sinyal internet mati total. Meski begitu, ujian daring tetap
dipaksakan. Ketimpangan ini memperlebar jurang kesenjangan pendidikan di negeri
yang setiap saat memuja jargon Merdeka Belajar itu. Di mana siswa di kota
dengan jaringan stabil bisa mengikuti ujian dengan lancar sedangkan siswa di desa
dihukum oleh bobroknya sistem negara mereka sendiri.
Bandingkan dengan negara-negara Nordik, misalnya Finlandia, di sana guru
dihormati seperti dokter dan pengacara, digaji layak, dan murid diberi akses serta
pengawasan terhadap teknologi. Filosofi mereka sederhana: guru sejahtera, murid
merdeka belajar.
Sementara di Negeri Konoha kita kerap kali bertanya apakah
dengan sistem pendidikan yang sarat ketidakadilan ini kita sungguh bisa
menyongsong ****** Emas 2045? Yang mana pendapatan per kapita setara negara
maju, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan daya saing SDM? Visi ini terkesan
ambisius tidak mungkin terealisasi jika pondasi pendidikan kita rapuh. Negara tampak membiarkan praktik yang eksploitatif
ini terus berlangsung—guru bergantung pada belas kasih, murid dieksploitasi,
orang tua dibebani, dan teknologi dipaksakan tanpa kesiapan.
Kolonialisme sindrom akan terus berlangsung jika tidak ada pembaharuan nyata yang melepaskan pendidikan
dari sistem yang dibungkus dengan kata “Nasionalisme” yang kebablasan ini.
Apakah 2045 dapat terealisasi dengan adanya generasi emas, atau kita sedang
membangun sebuah sistem yang mengarah pada nasionalisme ala Hitler atau Fasisme
Mussolini? Terkait ini, mungkin saya akan mengelaborasinya pada kesempatan yang
lain.
Lingat, 9 September 2025.
.jpg)
Komentar
🤝🔥