Langsung ke konten utama

KEMBALIKAN NEGERIKU

Negeriku di ujung selatan pulau Maluku yang berlimpah susu dan madu, hamparan pasir putih memanjang di tepi pantai, surga wisata karang bawah laut yang begitu indah, teripang, lola, mutiara di bawah laut serta bukit yang dihiasi dengan permadani hijau melintang luas menggambarkan kekayaan alam negeriku. Masih adakah harapan bagi kita agar senantiasa melestarikan kemegahan alamnya? Ataukah demi untuk memperkaya diri, sehingga kita bersedia dengan ikhlas hati membiarkan spesies-spesies rabies untuk mengeksploitasi seluruh kekayaan alam negeri kita?
Satu dekade kemudian, kita dikonfrontir dengan industrialisasi migas yang sangat tentatif arahnya. Apakah demi memenuhi ekonomi masyarakat? Menghapuskan kesenjangan sosial yang sementara berlangsung? Ataukah justru menyengsarakan masyarakat itu sendiri? Pertanyaan yang sangat mengandung kesangsian, bahkan seorang skeptis pun ragu untuk mengetahui kebenaranya. 

Sejarah berulang kembali, masih saja terus berlangsung antara yang menghimpit dengan yang terhimpit. Yang menghisap dengan yang terhisap. Mereka kapitalis dengan cara persuasif, mengelabui untuk menguasai hak-hak milik rakyat lantas membangun pusat perindustrian di negeriku sedangkan kekayaan berada pada pundi-pundi mereka. Petani dan buruh dipekerjakan sedangkan mereka para pejabat duduk manis di singgasana. Oligarki dan kapitalis memainkan peran kunci di dalam roda perekonomian sehingga tidak ada ruang bagi rakyat untuk melanggengkan hidupnya. Wakil-wakil rakyat yang semestinya mewakili hati nurani rakyat, mewakili aspirasi rakyat, namun mereka berada di dalam kubangan yang sama. 

Seyogianya perekonomian berada ditangan rakyat akan tetapi harus ditempuh dengan cara-cara revolusioner, memerlukan kesadaran bersama supaya membangkitkan solidaritas untuk menjadi garda terdepan bagi mereka yang terhimpit dan terhisap. Membangkitkan kaum terpelajar yang masih duduk manis di dalam ruang kelas agar menjadi buruh terpelajar. Dengan upaya itulah, kita dapat menghapuskan seluruh ketidak adilan, mengakrabkan seluruh pergaulan hidup antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan lingkungan.

Pendek kata, segala sesuatu yang memberikan kehidupan bagi kita, maka kita harus menjaganya, melestarikannya serta memperjuangkannya.

Yakinlah, Jika kita bersatu NEGERIKU AKAN KEMBALI, namun jika kita tidak bersatu maka kita akan hanyut, dan pada akhirnya kita akan tenggelam.

Tondano, 9 Juli 2020.

Komentar

Unknown mengatakan…
Soekarno pernah berpidato, "Sekali Merdeka tetap Merdeka"! Beliau mencetuskan semboyan: "Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta "KEMERDEKAAN" apakah Demikian!? Saya merasa keliru akan hal tersebut! Menurut anda!?
"Kita cinta damai tetapi kita lebih cinta kemerdekaan" kalimat ini bisa sja ambigu penafsirannya apabila kita tidak memahami konteksnya. Maksd dari kalimat yang dilontarkan oleh Soekarno adalah sebagai sebuah bangsa mencintai perdamaian namun, bila hak independensi sebuah bangsa dieksploitasi oleh bangsa lain maka kita sebagai bangsa Indonesia lebih mencintai kemerdekaan/kedaulatan.
Tentu, ketika cina ingin menguasai natuna maka Indonesia sebagai sebuah bangsa mempertahankan independensi laut Natuna yang adalah milik bangsa Indonesia. Saya kira sperti demikian.

Postingan populer dari blog ini

17+8: Tuntutan Rakyat hingga Bayang-bayang Revolusi

Tulisan ini saya persembahkan untuk Almarhuma adik ipar saya, yang pada hari ini genap satu bulan telah meninggalkan kita. Kehadirnya telah tiada, namun kasih, canda, tawa dan kenangan indahnya tetap hidup dalam hati kami. Dalam kesedihan ini, saya menulis sebagai penghormatan sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan bagi mereka yang kita cintai adalah warisan yang harus dijaga.   Gambar: OKP Tanimbar bersatu dalam aksi unjuk rasa menuntut keadilan.   UUD 1945 memberikan mandat agar negara mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan masyarakatnya . Namun setelah delapan dekade merdeka, cita-cita itu masih terasa jauh dari kenyataan. Soekarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 menegaskan, “Merdeka hanyalah jembatan emas.” Merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju masyarakat adil dan makmur. Tetapi, jembatan itu hingga kini masih retak, dipenuhi lubang ketidakadilan, dan dipelihara oleh mereka yang seharusnya menjadi penjaga amanah rakyat. Kenyat...

Ketika Tanah Lebih Murah dari Rokok Tabaku Daun Putih: Konflik Tapal Batas dan Politik Tanah di Tanimbar

MT. Empung, Tomohon Gagasan tentang tanah dan konflik yang mengelilinginya sebenarnya sudah muncul di kepala saya sejak saya mendaki Gunung Empung, Tomohon. Baru hari ini saya menuliskannya, setelah semalam saya berdiskusi panjang dengan beberapa teman dan salah satu tokoh masyarakat yang memiliki ambisi untuk maju sebagai bakal calon kepala desa definitif Desa Latdalam. Percakapan itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan tanah di desa kita bukan sekadar soal batas wilayah, tetapi soal masa depan masyarakat itu sendiri. Tanah Murah di Tanah Kaya Ada satu ironi besar yang sedang terjadi di Kepulauan Tanimbar. Di wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam besar, tanah masyarakat justru pernah dijual dengan harga sekitar Rp10.000–Rp14.000 per meter. Sementara itu harga "tabaku daun putih" (Tembakau Shag : salah satu jenis tembakau iris yang merupakan primadona bagi parah perokok ulung di Desa Latdalam) di wilayah yang sama sekitar Rp15.000 per bungkus. Tidak sesederhana...

KOLONIALISME SINDROM DALAM RUANG-RUANG KELAS

  Foto: Rutinitas Guru Honorer , berjalan ke Sekolah sebelum pukul 07.00 pagi yang penuh dengan dedikasi meskipun dengan keterbatasan fasilitas dan penghasilan yang tidak sebanding dengan tanggung jawab mereka. Bayangkan, setiap sebelum pukul 07.00 pagi ia sudah berjalan kaki ke Sekolah. Ia harus bangun setiap subuh, meninggalkan keluarganya tanpa sarapan. Sudah menjadi rutinitas yang ia lakoni dengan kesabaran yang luar biasa, padahal setiap akhir bulan ia hanya menerima upah Rp500 ribu: Rp250 ribu dari dana BOS , dan Rp250 ribu dari uang komite siswa. Lima ratus ribu rupiah untuk sebulan penuh—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk  kebutuhan pokoknya. Ya... ia adalah seorang guru honorer di sebuah desa terpencil yang berkilo-kilo jaraknya dari “Mama Kota.” Inilah wujud dari pendidikan di “ Negeri Konoha ” hari ini yang masih berkutat pada kolonialisme sindrom . Guru honorer dituntut menjalankan kurikulum baru dan ikut pelatihan daring , tapi gaji mereka bergantung pada dan...